Kamis, 03 Maret 2016

Persepsi,Emosi Dan Keperibadian



PERILAKU ORGANISASI
LAPORAN HASIL PERILAKU KEORGANISASI


DISUSUN OLEH : 
  1. Febi fitriana
  2. febriza
  3. juli anjas krisnawan
  4. robin tambunan












AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2016
 







Kata Pengantar
      Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya, kami sebagai penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan judul “Persepsi, Emosi Dan Kepribadian” ini tepat pada waktunya.  Makalah ini dibuat untuk tujuan akademis dan menunjang perkuliahan serta disusun secara sistematis agar mempermudah memahami materi yang disajikan didalamnya. Selama pencarian referensi dan penyusunan makalah ini, tidak sedikit kendala yang penulis hadapi. Namun, berkat arahan dan bimbingan dari pihak-pihak terkait, maka kendala tersebut dapat diatasi. Untuk itu, secara khusus penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Perilaku Keorganisasian yang telah memberikan kontribusi moral dan material dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dengan segala kerendahan hati kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami mengucapkan Terimakasih kepada semua pihak dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kehidupan serta perkembangan ilmu pengetahuan serta mampu menjadi acuan dalam mata kuliah bersangkutan.



Medan,     Februari 2014
Penulis,


Kelompok 2








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................ 3
A.            Latar Belakang............................................................................................... 3
B.            Tujuan Penulisan............................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................. 4
A.        Defenisi Persepsi............................................................................................ 4
B.        Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi................................................. 4
C.        Kesalahan-kesalahan Perseptual................................................................... 5
D........ Pengafsiran Rangsangan............................................................................... 7
E.        Emosi.............................................................................................................. 7
F.         Kepribadian.................................................................................................... 8
G.       Tahap Respon Emosional dalam Perubahan Organisasi............................... 10
H.        Pengelolaan Emosi dalam Perubahan........................................................... 10
BAB III PENUTUP..................................................................................................... 12
A.        Kesimpulan..................................................................................................... 12
B.        Saran.............................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 14
















BAB I
PENDAHULUAN

A             Latar Belakang

Studi perilaku organisasi adalah tentang pribadi dan dinamika kelompok dan konteks organisasi, serta sifat organisasi itu sendiri. Setiap kali orang berinteraksi dalam organisasi, banyak faktor yang ikut bermain. Studi organisasi berusaha untuk memahami dan menyusun model-model dari faktor-faktor ini.
Seperti halnya dengan semua ilmu sosial, perilaku organisasi berusaha untuk mengontrol, memprediksikan, dan menjelaskan. Namun ada sejumlah kontroversi mengenai dampak etis dari pemusatan perhatian terhadap perilaku pekerja. Karena itu, perilaku organisasi kadang-kadang dituduh telah menjadi alat ilmiah bagi pihak yang berkuasa. Terlepas dari tuduhan-tuduhan itu, Perilaku Organisasi dapat memainkan peranan penting dalam perkembangan organisasi dan keberhasilan kerja, yang diantaranya membahas tentang Persepsi, Emosi dan Kepribadian. Kedua hal tersebut sangat berkaitan erat dengan perilaku organisasi.
Persepsi, Emosi dan Kepribadian akan mempengaruhi individu didalam sebuah organisasi. Dengan penguasaan materi tentang Persepsi, Emosi dan Kepribadian ini diharapkan setiap individu akan bisa menempatkan dirinya didalam sebuah organisasi setelah menguasai materi tersebut. Keberhasilan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh setiap individu di dalamnya.


B.           Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui arti dari persepsi, emosi dan kepribadian.
2.. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi persepsi, emosi dan kepribadian.
3.   Untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan pesepsi, emosi dan kepribadian serta kaitannya dengan berperilaku dalam organisasi.












BAB II
PEMBAHASAN
PERSEPSI, EMOSI, DAN KEPERIBADIAN

I.              PERSEPSI

1.    Defenisi Persepsi
Persepsi adalah bagaimana orang-orang melihat atau menginterprestasiakan peristiwa, objek serta manusia.
Defenisi persepsi yang formal adalah proses dengan mana seorang memilih, berusaha dan mengiterprestasikan rangsangan ke dalam suatu gambaran yang terpadu dan berarti.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan persepsi sebagai tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca indera.
Sedangkan dalam lingkup yang lebih luas, persepsi merupakan suatu proses yang melibatkan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya dalam memperoleh dan menginterprestasikan stimulus yang ditunjukkan panca indera.
Dengan kata lain, persepsi merupakan kombinasi antara faktor utama dunia luar (stimulus visual) dan dari manusia itu sendiri(pengetahuan-pengetahuan itu sebelumnya).
Leavitt membedakan persepsi menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas. Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu. Sedangkan pandangan yan luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah cara pandang kita melihat dan menilai sesuatu, baik itu benda, orang lain, peristiwa yang terjadi dan hal lain yang kita lihat, dengar, cium, rasa dan kecap

A.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

1.1.Pelaku Persepsi
Ketika seseorang yang melakukan persepsi (perceiver) melihat sesuatu (target) yang harus diinterprestasi dan mencoba menginterprestasikan apa yang dia lihat.
Interprestasi sangat dipengaruhi :

Ø  Sikap si Pelaku Persepsi (Perceiver)
Seseorang dalam menginterprestasikan sesuatu pasti sangat terpengaruh dengan sikap yang dimilikinya. Misalnya, mahasiswa A membeli pakaian merek terkenal karena ingin agar pakaiannya yang dimilikinya tahan lama sehingga tak perlu rajin membeli pakaian, sedangakan mahasiswa B membeli pakaian merek terkenal karena ingin dilihat modis oleh teman-temannya. Dari contoh tersebut dapat dilihat mahasiwa

A memiliki sikap yang efisien dalam memilih barang sedangkan mahasiswa B memiliki
sikap yang boros, sehingga dalam menginterprestasikan pembelian pakaian merek terkenal mereka berbeda.

Ø  Motif si Pelaku Persepsi (Perceiver)
Motif yang dimaksud adalah alasan seseorang dalam melakukan sesuatu hal biasanya bersifat tersembunyi. Misalnya, seorang murid mendekati guru hendak mendapat pelajaran tambahan dari guru tersebut sedangkan murid yang lain mendekati gurunya untuk mendapat tambahan nilai.
Ø  Minat si Pelaku Persepsi (Perceiver)
Minat merupakn keterkan seseorang terhadap sesuatu hal. Hubungannya dengan persepsi, ketika seseorang menginterprestasikan sesuatu ia akan berpatokan dengan apa yang ia minati. Misalnya seorang peminat film akan membeli laptop karena kesukaannya menonton film, sedangkan seseorang yang suka menulis membeli laptop untuk menulis karayanya.
Ø  Pengalaman si Pelaku Persepsi (Perceiver)
Pengalaman merupakan hal yang memengaruhi interprestasi seseorang karena dengan apa yang sudah diketahuinya ia akan menentukan penilaianya. Misalnya, nona A membeli di toko X karena ia pernah membeli di toko tersebut dan ia puas dengan pelayanan toko tersebut sehingga ia terus membeli di toko X tersebut.

1.2.Target
Karakterisitik sebuah/seorang target dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Misalnya penampilan target, suara target, ukuran target atau faktor lain yang ada dalam target. Hal ini pasti sangat memengaruhi karena target merupakan objek yang harus dipersepsikan atau diinterprestasikan atau diasumsikan maupun dinilai.
2.3       Situasi
Konteks dimana kita melihat objek atau peristiwa adalah sesuatu yang penting. Unsur-unsur yang ada di sekililing lingkungan kita mempengaruhi pengamatan kita. Misalnya, bagi kita tidak akan bertentangan atau lebih lazim memakai celana pendek ketika kita keluar ke kedai atau sedang jalan-jalan tetapi sangat berbeda situasinya apabila kita pergi ke kampus dengan celana pendek
.
C. KESALAHAN-KESALAHAN PERSEPTUAL
Kesalahan-kesalahan dalam mempersepsi diantaranya adalah : stereotype, halo effect, mempertahankan persepsi, mempresepsi sebagian, kepribadian, proyeksi dan kesan. Akan dijelaskan sebagai berikut:
·         Stereotype. 
Yang dimaksud dengan stereotype adalah kecenderungan melihat orang bukan berdasarkan perilaku individual orang tersebut tetapi berdasarkan perilaku kelompoknya. Stereotype biasanya didasarkan pada jenis kelamin, ras, umur, agama, kewarganegaraan, atau pekerjaan.
·         Halo Effect.
Halo effect hampir sama dengan stereotype. Perbedaannya dalam halo effect orang yang mempersepsi mempergunakan satu kepribadian seseorang sebagai dasar untuk menilai orang tersebut secara keseluruhan. Salah satu aplikasi penting dalam
kesalahan mempersepsi yang disebabkan karena halo effect adalah ketika seorang supervisor menilai kinerja bawahan. Misalnya salah satu atribut dari orang yang dinilai kinerjanya mempengaruhi persepsi Sang Supervisor dan sang Supervisor mengaitkannya dengan atribut lain yang tidak relevan dengan penilaian kinerja, bukan tidak mungkin penilaian kinerja yang dilakukan supervisor tidak adil dan menyesatkan.
·         Perceptual Defence. 
Kadang-kadang kita berhadapan dengan stimulus yang membuat kita sendiri merasa malu atau mengancam diri kita. Oleh karena itu bukan tidak mungkin kita tidak mau untuk menghadapinya. Kondisi seperti ini disebut perceptual defence. Informasi yang secara personal akan mengancam kedudukan kita atau secara kultural tidak bisa diterima biasanya cenderung diabaikan kecuali informasi tersebut datang bertubi-tubi.

·         Mempersepsi Secara Selektif. 
Yang dimaksud dengan mempersepsi secara selektif adalah proses menyaring informasi secara sistematis untuk hal-hal yang tidak ingin kita dengar. Proses ini biasanya terjadi sebagai respon atas hal-hal yang tidak menyenangkan yang pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya.

·         Membuat Teori Kepribadian Sendiri. 
Karena kita sering berinteraksi dengan beberapa kelompok orang, misalnya dengan orang-orang akuntansi, asuransi, seniman, atau pegawai negeri, kita biasanya kenyang pengalaman dan paham betul dengan perilaku kelompok-kelompok orang tersebut. Oleh karena itu kita cenderung membuat teori sendiri mengenai profil kepribadian kelompok-kelompok orang tersebut. Misalnya akuntan adalah orang yang pemalu, jujur, patuh, tidak asertif, dan berkata lembut. Sementara orang-orang asuransi memiliki kepribadian sebaliknya. Dalam batas-batas tertentu boleh jadi profil yang kita buat cukup akurat, tidak banyak keliru. Berdasarkan pengalaman ini pula tidak jarang kita bisa secara cepat dan akurat mempersepsi kelompok orang tersebut. Meski demikian kita tidak boleh lupa bahwa setiap orang mempunyai kekhasan tersendiri sehingga teori yang kita buat sesungguhnya hanya sebagai ancar-ancar saja agar bisa mengkategorikan kelompok orang. Jika mencermati lebih detail boleh jadi situasinya berbeda. Misalnya, tidak selalu orang yang merasa bahagia dalam pekerjaannya, pasti orang yang lebih produktif.

·         Menggunakan Karakteristik Diri Sendiri Untuk Menilai Orang Lain. 
Seringkali ketika menilai orang lain menggunakan karakteristik yang kita miliki. Bahasa simboliknya mengukur sepatu orang dengan ukuran sepatu kita. Cara penilaian seperti ini biasa disebut sebagai projection. Seperti halnya kesalahan dam mempersepsi, projectionjuga bisa menjadi cara yang efisien untuk mempersepsi orang lain. Permasalahan yang berkaitan dengan projection adalah bukan sekedar menilai orang lain dengan karakteristik diri sendiri tetapi lebih dari itu yakni menilai secara negatif perilaku orang lain meski orang lain tersebut sesungguhnya tidak berperilaku demikian. Penilaian negatif kepada orang lain tersebut lebih disebabkan karena diri kita sendiri yang sesungguhnya berperilaku negatif namun kita tidak mau mengakuinya sehingga ditimpakan kepada orang lain. Dalam bahasa Sigmund Freud upaya ini disebut mekanisme mempertahankan diri sendiri (self defense mechanism) yang tujuannya adalah untuk memproteksi diri sendiri dan seolah-olah kita mampu menghadapi orang lain yang dianggap tidak sempurna.


·         Kesan Pertama. 
Tidak jarang ketika kita bertemu pertama kali dengan orang lain kita mempunyai kesan tertentu, entah kesan baik atau buruk. Namun seringkali kita terpengaruh terhadap kesan pertama tersebut dan dijadikan dasar untuk memberi penilaian berikutnya.

D.        Penafsiran Rangsangan
            Apa yang dipilih untuk merasakan sesuatu secara khas tergantung pada rangsangan yang dialami, harapan, dan alasan dari individu yang bersangkutan. Sifat dasar rangsangan meliputi hal-hal, seperti faktor atribut fisik dan desain, serta bertentangan dengan rangsangan lainnya. Harapan didasarkan pada pengaruh keadaan dan pengalaman sebelumnya. Manusia sering melihat apa yang diharapkan, sehingga memotivasi mereka untuk merasakan apa yang diperlukan atau apa yang diinginkan.

E.            PENGERTIAN EMOSI
Dari segi etimologi, istilah “emosi” berasal dari akar kata bahasa Latin, yakni “movere” yang berarti “menggerakkan, bergerak”. Oleh sebab itu nampak secara tersirat kesan bahwa kecenderungan tindakan seseorang merupakan sebab dari emosi. Atau dengan kata lain, emosi menjadi kecenderungan mutlak dalam menggerakkan tingkah laku manusia. Namun untuk memeroleh definisi mengenai emosi yang tegas, para ahli psikologi masih mengalami perdebatan terus menerus. 
Definisi mengenai emosi dan pengklasifikasiannya merupakan hal yang rumit sehingga tetap menjadi perdebatan oleh para ahli. Kerumitan definisi dan pengklasifikasian emosi ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut (Sarlito, 1996) :
a.       Emosi yang sangat mendalam menyebabkan aktivitas badan juga meninggi sehingga seluruh tubuh diaktifkan, dan dalam keadaan seperti itu sulit menentukan apakah seseorang sedang marah atau takut.
b.      Seseorang dapat menghayati satu jenis emosi dengan beragam cara. Misalnya, dalam situasi marah ia gemetar, dan pada saat yang lain memaki-maki atau mungkin lari.
c.       Penanaman jenis-jenis emosi biasanya didasarkan pada sifat rangsangannya, dan bukan keadaan emosinya. Takut adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya, marah adalah emosi yang timbul oleh karena sesuatu yang menjengkelkan.
d.      Pengenalan emosi secara subjektif dan instrospektif sukar dilakukan karena tetap saja ada pengaruh dari lingkungan.
Kendala-kendala sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, menurut Goleman, (1997) merupakan kerumitan yang dipicu oleh jenis-jenis emosi yang sangat beragam sehingga perbendaharaan kata kurang ataupun tidak sepadan dalam menyebutkannya. Dengan demikian para ahli pun dapat berbeda dalam merumuskan pengertian dan pembagian emosi, meskipun sebenarnya merupakan pengalaman kita sehari-hari baik dialami langsung secara pribadi maupun ketika berinteraksi dengan orang lain.


KARAKTERISTIK EMOSI
Manusia adalah makhluk individu dan juga makhluk sosial sehingga faktanya manusia mengalami berbagai macam peristiwa yang melibatkan emosi. Namun manusia tidak dapat memungkiri pengalaman yang terjadi dalam kehidupannya ketika emosi sedang memuncak. Pengalaman-pengalaman masa lampau yang tersimpan dalam memori manusia kemudian muncul ketika peristiwa yang sama terulang kembali sehingga menimbulkan tingkah laku ekspresif saat itu. Goleman, (1997) mengemukakan reaksi ekspresif delapan jenis emosi, yaitu:
1.      Amarah : beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal, hati terganggu, berang, tersinggung, bermusuhan, agresi, tindak kekerasan, dan kebencian patologis
2.     Kesedihan           : pedih, sedih, muram, suram, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi berat (patologis)
3.     Rasa Takut         : cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, waspada, tidak tenang, ngeri, fobia, dan panik (patologis)
4.     Kenikmatan         : bahagia, gembira, puas, senang, terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, rasa terpesona, rasa terpenuhi, kegirangan, luar biasa, dan mania.
5.     Cinta                    : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih.
6.     Terkejut               : kaget, takjub, terpana, terkesiap.                                        
7.     Jengkel               : hina, jijik, mual, benci, tidak suka, mau muntah
8.     Malu                    : rasa salah, kesal hati, sesal, aib, dan hati hancur lebur

Emosi-emosi itu kemudian dikategorikan lagi ke dalam emosi inti atau emosi dasar, yaitu takut, marah, sedih, dan senang. Dan oleh ahli lain, menurut Santrok (1988), ditambahkan benci dan kaget sehingga keseluruhannya menjadi enam kategori emosi dasar.


F.            KEPERIBADIAN
1.   Kepribadian
Kepribadian adalah segala corak perilaku yang khas dan unik dan dapat diperkirakan dimiliki atau ada pada diri seseorang, dan seringkali dipergunakan sebagai reaksi yang alami atau sebagai alat untuk menyesuaika diri terhadap segala sesuatu hal yang terjadi di sekitar seseorang.

  Faktor  faktor yang dapat menjadi penentu kepribadian seseorang, yaitu :

·         Keluarga (keturunan)
Merujuk pada faktor genetika seseorang, misalnya yang berkaitan dengan fisik yaitu tinggi badan, bentuk wajah, warna mata, warna rambut, bahkan sifat-sifat dan penyakit-penyakit tertentu
·         Lingkungan
Lingkungan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kepribadian seseorang, karena dalam lingkungan lah seorang pribadi dapat menangkap nilai-nilai atau norma-norma yang akan dia terapkan dalam hidupnya.
Misalnya saja ketika seorang anak dari keluarga yang baik dan taat akan Allah, namun jika lingkungan tempat ia tinggal memiliki pengaruh yang buruk dan imannya tidak cukup kuat, anak tersebut bisa jadi memiliki kepribadian yang buruk juga.
 Cara untuk mengukur kepribadian seseorang ada 2, yaitu :
·                     The Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) : adalah salah satu kerangka kerja kepribadian dengan 100 pertanyaan yang menanyakan kepada orang bagaimana mereka biasanya bertindak atau merasa dalam situasi tertentu. Individu pada akhirnya akan diklasifikasikan sebagai ekstrovet (E) dan intovert (I), sensing (S) atau intuitif (N), berpikir (T) atau merasa (F), dan memahami (P) atau menilai (J). Hasilnya nanti akan dirangkai seperti misalnya INTJ dalah kaum visioner, ESTJ adalah pengorganisasi, ENTP adalah pengagas, dllnya.
·                     Model lima besar : adalah 5 dimensi dasar hasil riset terbaru yang melandasi semua ciri dan meliputi sebagian besar variasi yang signifikan dalam kepribadian manusia, yaitu :

1.    Ekstraversi : mencakup tingkat kesenangan seseorang akan hubungan. Orang yang ekstravert akan cenderung suka berkelompok, tegas, dan mampu bersosialisasi. Kaum introvert atau tertutup cenderung pendiam, malu-malu, dan tenang.
2.    Kemampuan untuk bersepakat : merujuk pada kecenderungan untuk tunduk pada orang lain. Orang yang skornya tinggi akan memiliki sifat kooperatif, hangat, dan percaya. Sedangkan yang rendah akan dingin, tidak mampu bersepakat, dan antagonistik.
3.    Sifat mendengarkan suara hati : merupakan ukuran dari keandalan. Orang yang peka terhadap suara hatinya sendiri, akan memiliki sifat bertanggung jawab, terorganisir, dapat dipercaya, dan gigih. Sedangkan yang sebaliknya akan mudah bingung, tidak memiliki pengaturan (tidak terorganisir) dan tidak dapat diandalkan.
4.    Stabilitas emosional : merujuk pada kemampuan untuk bertahan terhadap stress atau tekanan yang dialai. Orang yang memiliki skor tinggi akan cenderung memiliki sifat tenang, percaya diri, dan aman. Sedangkan yang sebaliknya akan cenderung memiliki sifat gelisah, cemas, gugup, mudah tertekan, dan merasa tidak aman.
5.    Keterbukaan terhadap pengalaman : merujuk pada minat individual dan kekaguman individu terhadap hal baru. Orang yang terbuka cenderung memiliki sifat kreatif, ingin tahu, dan sensitif secara artistik. Sedangkan yang sebaliknya akan memiliki sifat konvensional dan menemukan kenyamanan dalam keakraban.







EMOSI DAN KEPRIBADIAN
Emosi dan kepribadian memiliki hubungan yang dapat dijelaskan berdasarkan analogi cuaca dan iklim (Revelle dan Scherer, 2008). Secara definitif, kepribadian adalah pola yang berhubungan dengan pengaruh, perilaku, kognisi dan keinginan (tujuan lintas waktu dan lokasi). Sedangkan luapan emosi menghadirkan integrasi dari perasaan, perilaku, penilaian dan keinginan pada waktu khusus dan lokasi tertentu sehingga kepribadian menghadirkan integrasi dalam waktu dan tempat (Orthony, 2005). Jadi akumulasi dari emosi yang berkaitan dengan karakterisasi khususnya menghadirkan pengertian mengenai kepribadian manusia tersebut.


G.           TAHAP RESPON EMOSIONAL DALAM PERUBAHAN ORGANISASI
Perubahanorganisasimerupakanreorientasi fundamental mengenaicaraorganisasiberoperasi, sehinggaselalubersifatmenyeluruh.Organisasi hanya berubah melalui perubahan anggotanya, baik secara individual maupun secara kolektif.Tantangan dari perubahan adalah akan banyak masalah yang bisa terjadi. ketika perubahaan akan di lakukan Masalah yang paling sering dan paling menonjol adalah “penolakan atas perubahan itu sendiri”. Istilah yang sangat populer dalam manajemen adalah resistensi perubahan. Penolakan atas perubahan tidak selalu negatif dikarenakan dengan adanya penolakan tersebut perubahan tidak bisa di lakukan secara sembarangan.
Berikut pola tahapan emosional dalam perubahan organisasi menurut Manfred F.R. Kets de Vries, Katharina Balazs,1999
1. Shock,  yang berupa rasa panik, marah, takut, numbness.
2. Working-through process,  yang berupa rasa tak percaya, penolakan (denial), rasa marah yang irrasional, sedih, menyalahkan diri (self-reproach), dan reaktif, orientasi pada masa lalu.
3. Discarding, mulai medefinisikan ulang dirinya dan perannya melalui proses selfexamination, dan mulai timbulnya rasa penerimaan (acceptance).


H.           PENGELOLAAN EMOSI DALAM PERUBAHAN
Emosi merupakan hal yang tak boleh diabaikan Anggapan bahwa emosi merupakan hal yang diabaikan dan hanya merupakan faktor pengganggu saja merupakan pandangan yang menyesatkan dalam menanggapi perubahan organisasi . Emosi dapat berfungsi positif dan mendorong tercapainya perubahan organisasi kalau emosi dikelola dengan wajar. Hal ini disebabkan karena emosi memiliki fungsi adaptif bagi individu yang bersangkutan. Disamping itu, emosi juga merupakan komponen yang penting dalam motivasi sebab akan menggerakkan individu untuk berperilaku tertentu.  Suatu proses perubahan organisasi yang berjalan dengan baik melibatkan interaksi terus menerus antara proses emosi dan kognitif para anggota organisasi



Dalam pengelolaan perubahan organisasi ada ambiguitas yaitu ketidakpastian akan menjadikan organisasi rentan terhadap konflik, yang harus diantisipasi oleh pihak manajemen. Keterbukaan pihak manajemen menjadi salah satu faktor penentu, yang dapat menerima penurunan kompetensi dan prestasi individu karena adanya masalahmasalah emosional
Pengelolaan emosi dalam perubahan organisasi harus mempertimbangkan :


1. Kejelasan visi organisasi dalam perubahan, dimana visi ini tidak saja mempertimbangkan segi rasional, tapi juga segi emosional sehingga visi yang dikemukakan bersifat inspiring and motivating. Visi perubahan haruslah ”winning the head and the heart ”.
2. Komunikasi yang terbuka dan jujur dengan anggota organisasi yang mengalami perubahan. Isi komunikasi tidak saja yang berkaitan denganperubahan yang dilakukan, tapi hal-hal yang dapat membantu mengurangi kecemasan. Komunikasi ini akan membantu mengurangi akibat-akibat negatif yang dipersepsikan anggota organisasi.
3. Jalur komunikasi yang digunakan sebaiknya jalur komunikasi yang informal, terutama kalau para anggota organisasi memiliki kepercayaan yang rendah terhadap pihak manajemen.
4. Pengakuan kewajaran akan emosi negatif yang dialami oleh anggota organisasi, dan memperlakukan emosi negatif itu sebagai bagian dari proses perubahan itu sendiri, bukan sebagai resistansi atau sesuatu yang irrasional.
5. Menumbuhkan rasa percaya anggota organisasi kepada pihak manajemen sehingga karyawan percaya bahwa pihak manajemen memiliki kompetensi dalam proses perubahan, disamping kepercayaan bahwa proses perubahan ini berjalan secara adil dan fair.
6. Meningkatkan sensitivitas pada kebutuhan karyawan,  apakah kebutuhan untuk peningkatan kompetensinya ataukah kebutuhan untuk catharsis, memberikan kesempatan pada karyawan untuk mengeluarkan ”unek-unek”nya selama berlangsungnya proses perubahan.
 7. Meningkatkan keterlibatan karyawan dalam proses perubahan itu sendiri, terutama terhadap proses perubahan itu (process control), tidak semata mata keterlibatan yang berupa keputusan mengenai perubahan (decision control)











BAB III
PENUTUP
1.    KESIMPULAN
Persepsi adalah bagaimana orang-orang melihat atau menginterprestasiakan peristiwa, objek serta manusia (Arfan, 18).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
·         Pelaku Persepsi
·         Target
·         Situasi
Kesalahan-kesalahan Perseptual
·         Teori Atribusi
·         Pilihan Persepsi
·         Efek Halo
·         Efek Kontras
·         Proyeksi
·         Berstreotip
·         Prejudice
Para manajer dapat menerapkan pengetahuan persepsi terhadap banyak aktivitas organisasi. Misalnya saja, dalam evaluasi kinerja, cara penilaian atas seseorang mungkin dipengaruhi oleh ketelitian persepsi si penyelia. Seringkali kesalahan persepsi disebabkan oleh permasalahan komunikasi dalam suatu organisasi. Kesalahan persepsi dapat juga mendorong ke arah ketegangan hubungan antara pribadi karyawan. Ketika interaksi dilihat sebagai sesuatu yang menegangkan, seorang penyelia perlu menetukan penyebab terjadinya peristiwa bisnis yang dipandang secara berbeda oleh orangng-orang yang berbeda.
Kepribadian adalah inti sari dari perbedaan individu. Kepribadian cenderung bersifat konsisten dan kronis. Dewasa ini ada faktor ketiga yang dianggap turut membentuk kepribadian seseorang, yaitu faktor keturunan, faktor lingkungan, dan faktor situasi. Myers-Briggs mengklasifikasikan orang-orang berdasarkan pada bagaimana mereka terfokus pada apa yang mereka perhatikan, mengumpulkan informasi, memproses dan mengevaluasi informasi, dan mengorentasikan diri mereka sendiri terhadap duni luar.

Emosi adalah perasaan intens yang diarahkan pada seseorang atau sesuatu. Emosi berbeda dari suasana hati (moods), yaitu merasakan bahwa kecenderungan untuk sedikit intensnya dibandingkan emosi dan kekurangan satu ransangan kontekstual. Emosi merupakan reaksi terhadap satu objek, mereka akhirnya tidak bertahan pada ciri kepribadian.

2.    SARAN

2.1. Setiap individu di harapkan menjaga emosinya agar tidak menyakitkan atau merugikan diri sendiri dan orang lain.
2.2.  Setiap persepsi senantiasa di arahkan pada hal-hal yang positif agar tercipta kerukunan hidup antara satu dengan yang lain.
2.3. Saling memberikan motivasi yang positif harus selalu di pupuk untuk menciptakan semangat dan rasa percaya diri.
Emosi,persepsi,dan motivasi adalah bagian dari perilaku manusia yang masing-masing memiliki karakter atau ciri khas yang berbeda.Oeh karena itu perlu di jaga keseimbangan masing-masing.

























DAFTAR PUSTAKA
Ikhsan, Arfan., Indra Maipita. Perilaku Organisasi. Madenatera.
http://ebookpp.com/pe/pengertian-kepribadian-menurut-ahli-doc.html
http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/mengenal%20tipe%20kepribadian%20dan%20kesadaran%20manusia.pdf
http://www.contohmakalah.net/pdf/iii-kepribadian
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_ilmu_antropologi/bab3_kepribadian.pdf
http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepribadian
http://yasinta.net/kepribadian-dan-emosi/