PERILAKU ORGANISASI
LAPORAN HASIL PERILAKU KEORGANISASI
DISUSUN OLEH :
- Febi fitriana
- febriza
- juli anjas krisnawan
- robin tambunan
AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
Kata
Pengantar
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena berkat rahmat-Nya, kami sebagai penulis dapat menyelesaikan Makalah
dengan judul “Persepsi, Emosi Dan Kepribadian” ini tepat pada waktunya. Makalah ini dibuat untuk tujuan akademis dan
menunjang perkuliahan serta disusun secara sistematis agar mempermudah memahami
materi yang disajikan didalamnya. Selama
pencarian referensi dan penyusunan makalah ini, tidak sedikit kendala yang
penulis hadapi. Namun, berkat arahan dan bimbingan dari pihak-pihak terkait,
maka kendala tersebut dapat diatasi. Untuk itu, secara khusus penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Perilaku Keorganisasian yang
telah memberikan kontribusi moral dan material dalam penyusunan makalah ini.
Kami
menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dengan segala
kerendahan hati kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir
kata kami mengucapkan Terimakasih kepada semua pihak dan semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kehidupan serta perkembangan ilmu pengetahuan serta mampu
menjadi acuan dalam mata kuliah bersangkutan.
Medan, Februari 2014
Penulis,
Kelompok 2
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR................................................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................................................... 2
BAB
I PENDAHULUAN............................................................................................ 3
A.
Latar
Belakang............................................................................................... 3
B.
Tujuan
Penulisan............................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................. 4
A.
Defenisi
Persepsi............................................................................................ 4
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Persepsi................................................. 4
C.
Kesalahan-kesalahan
Perseptual................................................................... 5
D........ Pengafsiran
Rangsangan............................................................................... 7
E. Emosi.............................................................................................................. 7
F.
Kepribadian.................................................................................................... 8
G. Tahap Respon Emosional dalam
Perubahan Organisasi............................... 10
H. Pengelolaan Emosi dalam
Perubahan........................................................... 10
BAB III
PENUTUP..................................................................................................... 12
A.
Kesimpulan..................................................................................................... 12
B. Saran.............................................................................................................. 13
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................................. 14
BAB I
PENDAHULUAN
A
Latar Belakang
Studi perilaku organisasi adalah tentang pribadi dan dinamika
kelompok dan konteks organisasi,
serta sifat organisasi itu sendiri. Setiap kali orang berinteraksi dalam
organisasi, banyak faktor yang ikut bermain. Studi organisasi berusaha untuk
memahami dan menyusun model-model dari faktor-faktor ini.
Seperti halnya dengan semua ilmu sosial,
perilaku organisasi berusaha untuk mengontrol, memprediksikan, dan menjelaskan. Namun ada sejumlah
kontroversi mengenai dampak etis dari pemusatan perhatian terhadap perilaku
pekerja. Karena itu, perilaku organisasi kadang-kadang dituduh telah menjadi
alat ilmiah bagi pihak yang berkuasa. Terlepas dari tuduhan-tuduhan itu,
Perilaku Organisasi dapat memainkan peranan penting dalam perkembangan organisasi dan
keberhasilan kerja, yang diantaranya membahas tentang Persepsi, Emosi dan
Kepribadian. Kedua hal tersebut sangat berkaitan erat dengan perilaku
organisasi.
Persepsi, Emosi dan Kepribadian akan
mempengaruhi individu didalam sebuah organisasi. Dengan penguasaan materi
tentang Persepsi, Emosi dan Kepribadian ini diharapkan setiap individu akan
bisa menempatkan dirinya didalam sebuah organisasi setelah menguasai materi
tersebut. Keberhasilan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh setiap individu
di dalamnya.
B.
Tujuan Penulisan
1. Untuk
mengetahui arti dari persepsi, emosi dan kepribadian.
2.. Untuk mengetahui faktor
yang mempengaruhi persepsi, emosi dan kepribadian.
3.
Untuk
mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan pesepsi, emosi dan kepribadian serta
kaitannya dengan berperilaku dalam organisasi.
BAB II
PEMBAHASAN
PERSEPSI, EMOSI, DAN
KEPERIBADIAN
I.
PERSEPSI
1. Defenisi
Persepsi
Persepsi
adalah bagaimana orang-orang melihat atau menginterprestasiakan peristiwa, objek
serta manusia.
Defenisi
persepsi yang formal adalah proses dengan mana seorang memilih, berusaha dan
mengiterprestasikan rangsangan ke dalam suatu gambaran yang terpadu dan
berarti.
Kamus Besar
Bahasa Indonesia mendefinisikan persepsi sebagai tanggapan (penerimaan) langsung
dari sesuatu atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca
indera.
Sedangkan
dalam lingkup yang lebih luas, persepsi merupakan suatu proses yang melibatkan
pengetahuan-pengetahuan sebelumnya dalam memperoleh dan menginterprestasikan
stimulus yang ditunjukkan panca indera.
Dengan kata
lain, persepsi merupakan kombinasi antara faktor utama dunia luar (stimulus
visual) dan dari manusia itu sendiri(pengetahuan-pengetahuan itu sebelumnya).
Leavitt
membedakan persepsi menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan
luas. Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana
seseorang melihat sesuatu. Sedangkan pandangan yan luas mengartikannya sebagai
bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu.
Dari beberapa
definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah cara pandang kita
melihat dan menilai sesuatu, baik itu benda, orang lain, peristiwa yang terjadi
dan hal lain yang kita lihat, dengar, cium, rasa dan kecap
A. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Persepsi
1.1.Pelaku
Persepsi
Ketika
seseorang yang melakukan persepsi (perceiver)
melihat sesuatu (target) yang harus
diinterprestasi dan mencoba menginterprestasikan apa yang dia lihat.
Interprestasi
sangat dipengaruhi :
Ø Sikap
si Pelaku Persepsi (Perceiver)
Seseorang
dalam menginterprestasikan sesuatu pasti sangat terpengaruh dengan sikap yang
dimilikinya. Misalnya, mahasiswa A membeli pakaian merek terkenal karena ingin
agar pakaiannya yang dimilikinya tahan lama sehingga tak perlu rajin membeli
pakaian, sedangakan mahasiswa B membeli pakaian merek terkenal karena ingin
dilihat modis oleh teman-temannya. Dari contoh tersebut dapat dilihat mahasiwa
A memiliki
sikap yang efisien dalam memilih barang sedangkan mahasiswa B memiliki
sikap yang
boros, sehingga dalam menginterprestasikan pembelian pakaian merek terkenal
mereka berbeda.
Ø Motif
si Pelaku Persepsi (Perceiver)
Motif yang
dimaksud adalah alasan seseorang dalam melakukan sesuatu hal biasanya bersifat
tersembunyi. Misalnya, seorang murid mendekati guru hendak mendapat pelajaran
tambahan dari guru tersebut sedangkan murid yang lain mendekati gurunya untuk
mendapat tambahan nilai.
Ø Minat
si Pelaku Persepsi (Perceiver)
Minat
merupakn keterkan seseorang terhadap sesuatu hal. Hubungannya dengan persepsi,
ketika seseorang menginterprestasikan sesuatu ia akan berpatokan dengan apa
yang ia minati. Misalnya seorang peminat film akan membeli laptop karena
kesukaannya menonton film, sedangkan seseorang yang suka menulis membeli laptop
untuk menulis karayanya.
Ø Pengalaman
si Pelaku Persepsi (Perceiver)
Pengalaman
merupakan hal yang memengaruhi interprestasi seseorang karena dengan apa yang
sudah diketahuinya ia akan menentukan penilaianya. Misalnya, nona A membeli di
toko X karena ia pernah membeli di toko tersebut dan ia puas dengan pelayanan
toko tersebut sehingga ia terus membeli di toko X tersebut.
1.2.Target
Karakterisitik
sebuah/seorang target dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Misalnya
penampilan target, suara target, ukuran target atau faktor lain yang ada dalam
target. Hal ini pasti sangat memengaruhi karena target merupakan objek yang
harus dipersepsikan atau diinterprestasikan atau diasumsikan maupun dinilai.
2.3
Situasi
Konteks
dimana kita melihat objek atau peristiwa adalah sesuatu yang penting. Unsur-unsur
yang ada di sekililing lingkungan kita mempengaruhi pengamatan kita. Misalnya,
bagi kita tidak akan bertentangan atau lebih lazim memakai celana pendek ketika
kita keluar ke kedai atau sedang jalan-jalan tetapi sangat berbeda situasinya
apabila kita pergi ke kampus dengan celana pendek
.
C. KESALAHAN-KESALAHAN
PERSEPTUAL
Kesalahan-kesalahan dalam
mempersepsi diantaranya adalah : stereotype, halo effect, mempertahankan persepsi, mempresepsi sebagian,
kepribadian, proyeksi dan kesan. Akan dijelaskan sebagai berikut:
·
Stereotype.
Yang dimaksud dengan stereotype adalah
kecenderungan melihat orang bukan berdasarkan perilaku individual orang tersebut tetapi berdasarkan perilaku
kelompoknya. Stereotype biasanya didasarkan pada jenis kelamin, ras, umur, agama,
kewarganegaraan, atau pekerjaan.
·
Halo Effect.
Halo effect hampir sama dengan
stereotype. Perbedaannya dalam halo effect orang yang mempersepsi mempergunakan
satu kepribadian seseorang sebagai dasar untuk menilai orang tersebut secara
keseluruhan. Salah satu aplikasi penting dalam
kesalahan mempersepsi yang disebabkan
karena halo effect adalah ketika seorang supervisor menilai kinerja bawahan. Misalnya salah
satu atribut dari orang yang dinilai kinerjanya mempengaruhi persepsi Sang
Supervisor dan sang Supervisor mengaitkannya dengan atribut lain yang tidak
relevan dengan penilaian kinerja, bukan tidak mungkin penilaian kinerja yang
dilakukan supervisor tidak adil dan menyesatkan.
·
Perceptual Defence.
Kadang-kadang kita berhadapan dengan
stimulus yang membuat kita sendiri merasa malu atau mengancam diri kita. Oleh
karena itu bukan tidak mungkin kita tidak mau untuk menghadapinya. Kondisi seperti ini disebut perceptual
defence. Informasi yang secara personal akan mengancam kedudukan kita
atau secara kultural tidak bisa diterima biasanya cenderung diabaikan kecuali
informasi tersebut datang bertubi-tubi.
·
Mempersepsi Secara Selektif.
Yang dimaksud dengan mempersepsi secara
selektif adalah proses menyaring informasi secara sistematis untuk hal-hal yang
tidak ingin kita dengar. Proses ini biasanya terjadi sebagai respon atas
hal-hal yang tidak menyenangkan yang pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya.
·
Membuat Teori Kepribadian Sendiri.
Karena kita sering berinteraksi dengan
beberapa kelompok orang, misalnya dengan orang-orang akuntansi, asuransi,
seniman, atau pegawai negeri, kita biasanya kenyang pengalaman dan paham betul
dengan perilaku kelompok-kelompok orang tersebut. Oleh karena itu kita cenderung
membuat teori sendiri mengenai profil kepribadian kelompok-kelompok orang
tersebut. Misalnya akuntan adalah orang yang pemalu, jujur, patuh, tidak
asertif, dan berkata lembut. Sementara orang-orang asuransi memiliki
kepribadian sebaliknya. Dalam batas-batas tertentu boleh jadi profil yang kita
buat cukup akurat, tidak banyak keliru. Berdasarkan pengalaman ini pula tidak
jarang kita bisa secara cepat dan akurat mempersepsi kelompok orang tersebut.
Meski demikian kita tidak boleh lupa bahwa setiap orang mempunyai kekhasan
tersendiri sehingga teori yang kita buat sesungguhnya hanya sebagai ancar-ancar
saja agar bisa mengkategorikan kelompok orang. Jika mencermati lebih detail
boleh jadi situasinya berbeda. Misalnya, tidak selalu orang yang merasa bahagia
dalam pekerjaannya, pasti orang yang lebih produktif.
·
Menggunakan Karakteristik Diri Sendiri Untuk Menilai Orang Lain.
Seringkali ketika menilai orang lain
menggunakan karakteristik yang kita miliki. Bahasa simboliknya mengukur sepatu
orang dengan ukuran sepatu kita. Cara penilaian seperti ini biasa disebut
sebagai projection.
Seperti halnya kesalahan dam mempersepsi, projectionjuga bisa menjadi cara yang efisien untuk mempersepsi
orang lain. Permasalahan yang berkaitan dengan projection adalah bukan sekedar menilai orang lain dengan
karakteristik diri sendiri tetapi lebih dari itu yakni menilai secara negatif
perilaku orang lain meski orang lain tersebut sesungguhnya tidak berperilaku
demikian. Penilaian negatif kepada orang lain tersebut lebih disebabkan karena
diri kita sendiri yang sesungguhnya berperilaku negatif namun kita tidak mau mengakuinya sehingga
ditimpakan kepada orang lain. Dalam bahasa Sigmund Freud upaya ini disebut
mekanisme mempertahankan diri sendiri (self defense mechanism) yang tujuannya
adalah untuk memproteksi diri sendiri dan seolah-olah kita mampu menghadapi
orang lain yang dianggap tidak sempurna.
·
Kesan Pertama.
Tidak jarang ketika kita bertemu
pertama kali dengan orang lain kita mempunyai kesan tertentu, entah kesan baik
atau buruk. Namun seringkali kita terpengaruh terhadap kesan pertama tersebut
dan dijadikan dasar untuk memberi penilaian berikutnya.
D. Penafsiran
Rangsangan
Apa yang dipilih untuk merasakan sesuatu secara khas
tergantung pada rangsangan yang dialami, harapan, dan alasan dari individu yang
bersangkutan. Sifat dasar rangsangan meliputi hal-hal, seperti faktor atribut
fisik dan desain, serta bertentangan dengan rangsangan lainnya. Harapan
didasarkan pada pengaruh keadaan dan pengalaman sebelumnya. Manusia sering
melihat apa yang diharapkan, sehingga memotivasi mereka untuk merasakan apa
yang diperlukan atau apa yang diinginkan.
E.
PENGERTIAN EMOSI
Dari
segi etimologi, istilah “emosi” berasal dari akar kata bahasa Latin, yakni “movere” yang berarti “menggerakkan,
bergerak”. Oleh sebab itu nampak secara tersirat kesan bahwa kecenderungan
tindakan seseorang merupakan sebab dari emosi. Atau dengan kata lain, emosi
menjadi kecenderungan mutlak dalam menggerakkan tingkah laku manusia. Namun
untuk memeroleh definisi mengenai emosi yang tegas, para ahli psikologi masih
mengalami perdebatan terus menerus.
Definisi
mengenai emosi dan pengklasifikasiannya merupakan hal yang rumit sehingga tetap
menjadi perdebatan oleh para ahli. Kerumitan definisi dan pengklasifikasian
emosi ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut (Sarlito, 1996) :
a. Emosi yang sangat
mendalam menyebabkan aktivitas badan juga meninggi sehingga seluruh tubuh
diaktifkan, dan dalam keadaan seperti itu sulit menentukan apakah seseorang
sedang marah atau takut.
b. Seseorang dapat
menghayati satu jenis emosi dengan beragam cara. Misalnya, dalam situasi marah
ia gemetar, dan pada saat yang lain memaki-maki atau mungkin lari.
c. Penanaman
jenis-jenis emosi biasanya didasarkan pada sifat rangsangannya, dan bukan
keadaan emosinya. Takut adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya, marah
adalah emosi yang timbul oleh karena sesuatu yang menjengkelkan.
d. Pengenalan emosi secara
subjektif dan instrospektif sukar dilakukan karena tetap saja ada pengaruh dari
lingkungan.
Kendala-kendala
sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, menurut Goleman, (1997) merupakan
kerumitan yang dipicu oleh jenis-jenis emosi yang sangat beragam sehingga
perbendaharaan kata kurang ataupun tidak sepadan dalam menyebutkannya. Dengan
demikian para ahli pun dapat berbeda dalam merumuskan pengertian dan pembagian
emosi, meskipun sebenarnya merupakan pengalaman kita sehari-hari baik dialami
langsung secara pribadi maupun ketika berinteraksi dengan orang lain.
KARAKTERISTIK EMOSI
Manusia adalah makhluk
individu dan juga makhluk sosial sehingga faktanya manusia mengalami berbagai
macam peristiwa yang melibatkan emosi. Namun manusia tidak dapat memungkiri
pengalaman yang terjadi dalam kehidupannya ketika emosi sedang memuncak.
Pengalaman-pengalaman masa lampau yang tersimpan dalam memori manusia kemudian
muncul ketika peristiwa yang sama terulang kembali sehingga menimbulkan tingkah
laku ekspresif saat itu. Goleman, (1997) mengemukakan reaksi ekspresif delapan
jenis emosi, yaitu:
1. Amarah : beringas, mengamuk, benci, marah besar,
jengkel, kesal, hati terganggu, berang, tersinggung, bermusuhan, agresi, tindak
kekerasan, dan kebencian patologis
2. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, kesepian,
ditolak, putus asa, dan depresi berat (patologis)
3. Rasa Takut : cemas, takut, gugup, khawatir,
waswas, waspada, tidak tenang, ngeri, fobia, dan panik (patologis)
4. Kenikmatan : bahagia, gembira, puas, senang,
terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, rasa terpesona, rasa terpenuhi,
kegirangan, luar biasa, dan mania.
5. Cinta : penerimaan, persahabatan,
kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih.
6. Terkejut : kaget,
takjub, terpana, terkesiap.
7. Jengkel : hina,
jijik, mual, benci, tidak suka, mau muntah
8. Malu : rasa salah, kesal hati,
sesal, aib, dan hati hancur lebur
Emosi-emosi
itu kemudian dikategorikan lagi ke dalam emosi inti atau emosi dasar, yaitu
takut, marah, sedih, dan senang. Dan oleh ahli lain, menurut Santrok (1988),
ditambahkan benci dan kaget sehingga keseluruhannya menjadi enam kategori emosi
dasar.
F.
KEPERIBADIAN
1.
Kepribadian
Kepribadian adalah segala corak
perilaku yang khas dan unik dan dapat diperkirakan dimiliki atau ada pada diri
seseorang, dan seringkali dipergunakan sebagai reaksi yang alami atau sebagai
alat untuk menyesuaika diri terhadap segala sesuatu hal yang terjadi di sekitar
seseorang.
Faktor faktor
yang dapat menjadi penentu kepribadian seseorang, yaitu :
·
Keluarga
(keturunan)
Merujuk pada faktor genetika
seseorang, misalnya yang berkaitan dengan fisik yaitu tinggi badan, bentuk wajah,
warna mata, warna rambut, bahkan sifat-sifat dan penyakit-penyakit tertentu
·
Lingkungan
Lingkungan memiliki pengaruh yang
cukup besar dalam kepribadian seseorang, karena dalam lingkungan lah seorang
pribadi dapat menangkap nilai-nilai atau norma-norma yang akan dia terapkan
dalam hidupnya.
Misalnya saja ketika seorang anak
dari keluarga yang baik dan taat akan Allah, namun jika lingkungan tempat ia
tinggal memiliki pengaruh yang buruk dan imannya tidak cukup kuat, anak
tersebut bisa jadi memiliki kepribadian yang buruk juga.
Cara untuk mengukur kepribadian
seseorang ada 2, yaitu :
·
The Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) : adalah salah satu kerangka kerja
kepribadian dengan 100 pertanyaan yang menanyakan kepada orang bagaimana mereka
biasanya bertindak atau merasa dalam situasi tertentu. Individu pada akhirnya
akan diklasifikasikan sebagai ekstrovet (E) dan intovert (I), sensing (S) atau
intuitif (N), berpikir (T) atau merasa (F), dan memahami (P) atau menilai (J).
Hasilnya nanti akan dirangkai seperti misalnya INTJ dalah kaum visioner, ESTJ
adalah pengorganisasi, ENTP adalah pengagas, dllnya.
·
Model lima besar : adalah 5
dimensi dasar hasil riset terbaru yang melandasi semua ciri dan meliputi
sebagian besar variasi yang signifikan dalam kepribadian manusia, yaitu :
1. Ekstraversi : mencakup tingkat
kesenangan seseorang akan hubungan. Orang yang ekstravert akan cenderung suka
berkelompok, tegas, dan mampu bersosialisasi. Kaum introvert atau tertutup
cenderung pendiam, malu-malu, dan tenang.
2. Kemampuan untuk bersepakat : merujuk
pada kecenderungan untuk tunduk pada orang lain. Orang yang skornya tinggi akan
memiliki sifat kooperatif, hangat, dan percaya. Sedangkan yang rendah akan
dingin, tidak mampu bersepakat, dan antagonistik.
3. Sifat mendengarkan suara hati :
merupakan ukuran dari keandalan. Orang yang peka terhadap suara hatinya
sendiri, akan memiliki sifat bertanggung jawab, terorganisir, dapat dipercaya,
dan gigih. Sedangkan yang sebaliknya akan mudah bingung, tidak memiliki
pengaturan (tidak terorganisir) dan tidak dapat diandalkan.
4. Stabilitas emosional : merujuk pada
kemampuan untuk bertahan terhadap stress atau tekanan yang dialai. Orang yang
memiliki skor tinggi akan cenderung memiliki sifat tenang, percaya diri, dan
aman. Sedangkan yang sebaliknya akan cenderung memiliki sifat gelisah, cemas,
gugup, mudah tertekan, dan merasa tidak aman.
5. Keterbukaan terhadap pengalaman :
merujuk pada minat individual dan kekaguman individu terhadap hal baru. Orang
yang terbuka cenderung memiliki sifat kreatif, ingin tahu, dan sensitif secara
artistik. Sedangkan yang sebaliknya akan memiliki sifat konvensional dan
menemukan kenyamanan dalam keakraban.
EMOSI
DAN KEPRIBADIAN
Emosi
dan kepribadian memiliki hubungan yang dapat dijelaskan berdasarkan analogi
cuaca dan iklim (Revelle dan Scherer, 2008). Secara definitif, kepribadian
adalah pola yang berhubungan dengan pengaruh, perilaku, kognisi dan keinginan
(tujuan lintas waktu dan lokasi). Sedangkan luapan emosi menghadirkan integrasi
dari perasaan, perilaku, penilaian dan keinginan pada waktu khusus dan lokasi
tertentu sehingga kepribadian menghadirkan integrasi dalam waktu dan tempat (Orthony,
2005). Jadi akumulasi dari emosi yang berkaitan dengan karakterisasi khususnya
menghadirkan pengertian mengenai kepribadian manusia tersebut.
G.
TAHAP RESPON
EMOSIONAL DALAM PERUBAHAN ORGANISASI
Perubahanorganisasimerupakanreorientasi
fundamental mengenaicaraorganisasiberoperasi, sehinggaselalubersifatmenyeluruh.Organisasi hanya
berubah melalui perubahan anggotanya, baik secara individual maupun secara
kolektif.Tantangan dari perubahan adalah akan banyak masalah yang bisa terjadi.
ketika perubahaan akan di lakukan Masalah yang paling sering dan paling
menonjol adalah “penolakan atas perubahan itu sendiri”. Istilah yang sangat
populer dalam manajemen adalah resistensi perubahan. Penolakan atas perubahan
tidak selalu negatif dikarenakan dengan adanya penolakan tersebut perubahan
tidak bisa di lakukan secara sembarangan.
Berikut
pola tahapan emosional dalam perubahan organisasi menurut Manfred F.R. Kets de
Vries, Katharina Balazs,1999
1. Shock, yang berupa rasa panik, marah, takut,
numbness.
2. Working-through
process, yang berupa rasa tak percaya,
penolakan (denial), rasa marah yang irrasional, sedih, menyalahkan diri
(self-reproach), dan reaktif, orientasi pada masa lalu.
3. Discarding,
mulai medefinisikan ulang dirinya dan perannya melalui proses selfexamination,
dan mulai timbulnya rasa penerimaan (acceptance).
H.
PENGELOLAAN EMOSI
DALAM PERUBAHAN
Emosi
merupakan hal yang tak boleh diabaikan Anggapan bahwa emosi merupakan hal yang
diabaikan dan hanya merupakan faktor pengganggu saja merupakan pandangan yang
menyesatkan dalam menanggapi perubahan organisasi . Emosi dapat berfungsi
positif dan mendorong tercapainya perubahan organisasi kalau emosi dikelola
dengan wajar. Hal ini disebabkan karena emosi memiliki fungsi adaptif bagi
individu yang bersangkutan. Disamping itu, emosi juga merupakan komponen yang
penting dalam motivasi sebab akan menggerakkan individu untuk berperilaku
tertentu. Suatu proses perubahan
organisasi yang berjalan dengan baik melibatkan interaksi terus menerus antara
proses emosi dan kognitif para anggota organisasi
Dalam
pengelolaan perubahan organisasi ada ambiguitas yaitu ketidakpastian akan
menjadikan organisasi rentan terhadap konflik, yang harus diantisipasi oleh
pihak manajemen. Keterbukaan pihak manajemen menjadi salah satu faktor penentu,
yang dapat menerima penurunan kompetensi dan prestasi individu karena adanya
masalahmasalah emosional
Pengelolaan emosi
dalam perubahan organisasi harus mempertimbangkan :
1.
Kejelasan visi organisasi dalam perubahan, dimana visi ini tidak saja
mempertimbangkan segi rasional, tapi juga segi emosional sehingga visi yang
dikemukakan bersifat inspiring and motivating. Visi perubahan haruslah ”winning
the head and the heart ”.
2. Komunikasi
yang terbuka dan jujur dengan anggota organisasi yang mengalami perubahan. Isi
komunikasi tidak saja yang berkaitan denganperubahan yang dilakukan, tapi
hal-hal yang dapat membantu mengurangi kecemasan. Komunikasi ini akan membantu
mengurangi akibat-akibat negatif yang dipersepsikan anggota organisasi.
3.
Jalur komunikasi yang digunakan sebaiknya jalur komunikasi yang informal,
terutama kalau para anggota organisasi memiliki kepercayaan yang rendah
terhadap pihak manajemen.
4.
Pengakuan kewajaran akan emosi negatif yang dialami oleh anggota organisasi,
dan memperlakukan emosi negatif itu sebagai bagian dari proses perubahan itu
sendiri, bukan sebagai resistansi atau sesuatu yang irrasional.
5.
Menumbuhkan rasa percaya anggota organisasi kepada pihak manajemen sehingga
karyawan percaya bahwa pihak manajemen memiliki kompetensi dalam proses
perubahan, disamping kepercayaan bahwa proses perubahan ini berjalan secara
adil dan fair.
6.
Meningkatkan sensitivitas pada kebutuhan karyawan, apakah kebutuhan untuk peningkatan
kompetensinya ataukah kebutuhan untuk catharsis, memberikan kesempatan pada
karyawan untuk mengeluarkan ”unek-unek”nya selama berlangsungnya proses
perubahan.
7. Meningkatkan keterlibatan karyawan dalam
proses perubahan itu sendiri, terutama terhadap proses perubahan itu (process
control), tidak semata mata keterlibatan yang berupa keputusan mengenai
perubahan (decision control)
BAB
III
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Persepsi adalah bagaimana
orang-orang melihat atau menginterprestasiakan peristiwa, objek serta manusia
(Arfan, 18).
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Persepsi
·
Pelaku
Persepsi
·
Target
·
Situasi
Kesalahan-kesalahan
Perseptual
·
Teori
Atribusi
·
Pilihan
Persepsi
·
Efek
Halo
·
Efek
Kontras
·
Proyeksi
·
Berstreotip
·
Prejudice
Para
manajer dapat menerapkan pengetahuan persepsi terhadap banyak aktivitas
organisasi. Misalnya saja, dalam evaluasi kinerja, cara penilaian atas
seseorang mungkin dipengaruhi oleh ketelitian persepsi si penyelia. Seringkali
kesalahan persepsi disebabkan oleh permasalahan komunikasi dalam suatu
organisasi. Kesalahan persepsi dapat juga mendorong ke arah ketegangan hubungan
antara pribadi karyawan. Ketika interaksi dilihat sebagai sesuatu yang menegangkan,
seorang penyelia perlu menetukan penyebab terjadinya peristiwa bisnis yang
dipandang secara berbeda oleh orangng-orang yang berbeda.
Kepribadian adalah inti sari dari
perbedaan individu. Kepribadian cenderung bersifat konsisten dan kronis. Dewasa
ini ada faktor ketiga yang dianggap turut membentuk kepribadian seseorang,
yaitu faktor keturunan, faktor
lingkungan, dan faktor situasi. Myers-Briggs mengklasifikasikan orang-orang
berdasarkan pada bagaimana mereka terfokus pada apa yang mereka perhatikan,
mengumpulkan informasi, memproses dan mengevaluasi informasi, dan
mengorentasikan diri mereka sendiri terhadap duni luar.
Emosi adalah perasaan intens yang
diarahkan pada seseorang atau sesuatu. Emosi berbeda dari suasana hati (moods),
yaitu merasakan bahwa kecenderungan untuk sedikit intensnya dibandingkan emosi
dan kekurangan satu ransangan kontekstual. Emosi merupakan reaksi terhadap satu
objek, mereka akhirnya tidak bertahan pada ciri kepribadian.
2.
SARAN
2.1. Setiap individu di harapkan
menjaga emosinya agar tidak menyakitkan atau merugikan diri sendiri dan orang
lain.
2.2. Setiap persepsi senantiasa di arahkan pada
hal-hal yang positif agar tercipta kerukunan hidup antara satu dengan yang
lain.
2.3. Saling memberikan motivasi
yang positif harus selalu di pupuk untuk menciptakan semangat dan rasa percaya
diri.
Emosi,persepsi,dan
motivasi adalah bagian dari perilaku manusia yang masing-masing memiliki
karakter atau ciri khas yang berbeda.Oeh karena itu perlu di jaga keseimbangan
masing-masing.
DAFTAR
PUSTAKA
Ikhsan, Arfan., Indra Maipita. Perilaku Organisasi. Madenatera.
http://ebookpp.com/pe/pengertian-kepribadian-menurut-ahli-doc.htmlhttp://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/mengenal%20tipe%20kepribadian%20dan%20kesadaran%20manusia.pdf
http://www.contohmakalah.net/pdf/iii-kepribadian
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_ilmu_antropologi/bab3_kepribadian.pdf
http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepribadian
http://yasinta.net/kepribadian-dan-emosi/
